Friday, 15 April 2016

Tugas Minggu Ke-1: Materi 1 "Azas-Azas Lingkungan"

PENGETAHUAN LINGKUNGAN
AZAS-AZAS LINGKUNGAN 



Disusun Oleh  :
Dimas Dwi Aryadi
32413488
 (Kelompok 2)



JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2016






I.              Pendahuluan
Ilmu Lingkungan adalah suatu studi yang sistematis mengenai lingkungan hidup dan kedudukan manusia yang pantas di dalamnya. Perbedaan utama ilmu lingkungan dan ekologi adalah dengan adanya misi untuk mencari pengetahuan yang arif, tepat (valid), baru, dan menyeluruh tentang alam sekitar, dan dampak perlakuan manusia terhadap alam. Misi tersebut adalah untuk menimbulkan kesadaran, penghargaan, tanggung jawab, dan keberpihakan terhadap manusia dan lingkungan hidup secara menyeluruh. Timbulnya kesadaran lingkungan sudah dimulai sejak lama, contohnya Plato pada 4 abad Sebelum Masehi telah mengamati kerusakan alam akibat perilaku manusia. Pada zaman modern, terbitnya buku Silent Spring tahun 1962 mulai menggugah kesadaran umat manusia.
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, batasan dari ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup. Secara struktural ekosistem terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik ekosistem meliputi: sumber daya tumbuhan, sumber daya hewan, jasad renik, dan sumber daya manusia. Komponen abiotik ekosistem meliputi: sumber daya tanah, sumber daya air, sumber daya energi fosil, udara, serta cuaca dan iklim. Masing-masing komponen yang menjadi bagian dari ekosistem tersebut saling berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan erat. Adapun faktor lingkungan pembatas berperan besar dalam menentukan komposisi organisme dalam suatu ekosistem. Dalam konsep faktor pembatas dikemukakan bahwa setiap organisme memiliki kisaran toleransi terhadap setiap faktor lingkungan abiotik.
Kehidupan di danau, kolam, gunung, lautan, gurun pasir berjalan terus tanpa ada mnusia yang memberikan makanan, membersihkan kotoran, mengatur suhu dan kegiatan lainnya. Selama jutaan tahun, hewan, tanaman, dan mikroorganisme telah mengembangkan cara mereka sendiri untuk tetap dapat bertahan hidup secara bersama-sama dalam satu ligkungan tertentu. Ekologi merupakan ilmu yang memperhatikan bagaimana makhluk hidup tinggal dalam lingkungan mereka, mengambil segala keperluan mereka dari lingkungan mereka, dan juga memberikan sumbangan peran dalam lingkungan mereka. Fokus perhatian ekologi adalah ekosistem, yang dibentuk oleh sejumlah makhluk hidup yang tinggal bersama dalam suatu lingkungan dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. Ekosistem dapat mencakup satu lingkungan kecil seperti setetes air tapi bisa juga besar seluas lautan.


II.           Ekologi dan Ilmu Lingkungan
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. berasal dari kata Yunani Oikos ('habitat') dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Menurut Arnest Haeckel (1860) ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang "makhluk hidup dalam rumahnya" atau "rumah tangga makhluk hidup". Dengan kata lain ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan biologis dan fisik dalam menjalankan kehidupannya, dan bagaimana interaksi tersebut mempengaruhi distribusi dan kelimpahan suatu jenis makhluk hidup. Makhluk hidup dapat bertahan hidup karena kebutuhan hidupnya terpenuhi, makanan cukup oksigen untuk bernapas cukup, suhu lingkungan yang cocok, itu semua dipelajari dan kemudian dipelajari pula bagaimana jumlah serta distribusi jenis makhluk hidup bisa mempengaruhi kondisi biologis dan fisik suatu lingkungan. Ekologi ekosistem merupakan suatu studi untuk mempelajari tentang komponen biotik dan abiotik dari suatu ekosistem dan bagaimana interaksi yang terjadi diantara komponen-komponen tersebut.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70-an. Akan tetapi, ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap cabang biologinya. Para ahli ekologi mempelajari hal berikut:
1. Perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya.
2. Perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda dalam faktor-faktor yang menyebabkannya.
3. Terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Kini para ekolog(orang yang mempelajari ekologi) berfokus kepada Ekowilayah bumi dan riset perubahan iklim.



Gambar 1. Ekologi melibatkan komponen biotik & abiotik yang saling berinteraksi
Ekologi melibatkan hubungan antara kelompok produsen dan konsumen. Kelompok produsen merupakan kelompok yang menyediakan barang atau jasa sedangkan konsumen menggunakan barang atau jasa. Dalam konteks ekologi, kelompok produsen adalah kelompok yang bertugas menyediakan sumber-sumber energi bagi konsumen. Biasanya yang bertindak sebagai produsen adalah kelompok tumbuhan berhijau daun yang memiliki kemampuan merubah unsur-unsur anorganik menjadi senyawa organik dengan bantuan cahaya matahari yang kemudian digunakan oleh konsumennya melalui proses makan.
Ilmu lingkungan adalah ekologi yang menerapkan berbagai azas dan konsepnya kepada masalah yang lebih luas,yang menyangkut pula hubungan manusia dengan lingkungannya. Ilmu Lingkungan adalah ekologi terapan. Ilmu lingkungan ini mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik anatara jasad hidup (termasuk manusia) dengan dengan lingkungannya.
Ilmu lingkungan (environmental science atau envirology) adalah ilmu yang mempelajari tentang lingkungan hidup. Ilmu Lingkungan adalah suatu studi yang sistematis mengenai lingkungan hidup dan kedudukan manusia yang pantas di dalamnya. Perbedaan utama ilmu lingkungan dan ekologi adalah dengan adanya misi untuk mencari pengetahuan yang arif, tepat (valid), baru, dan menyeluruh tentang alam sekitar, dan dampak perlakuan manusia terhadap alam. Misi tersebut adalah untuk menimbulkan kesadaran, penghargaan, tanggung jawab, dan keberpihakan terhadap manusia dan lingkungan hidup secara menyeluruh.
Ilmu lingkungan merupakan perpaduan konsep dan asas berbagai ilmu (terutama ekologi, ilmu lainnya: biologi, biokimia, hidrologi, oceanografi, meteorologi, ilmu tanah, geografi, demografi, ekonomi dan sebagainya), yang bertujuan untuk mempelajari dan memecahkan masalah yang menyangkut hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Ilmu lingkungan merupakan penjabaran atau terapan dari ekologi.
Ilmu Lingkungan merupakan salah satu ilmu yang mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari jasad hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya, antara lain dari aspek sosial, ekonomi, kesehatan, pertanian, sehingga ilmu ini dapat dikatakan sebagai suatu poros, tempat berbagai asas dan konsep berbagai ilmu yang saling terkait satu sama lain untuk mengatasi masalah hubungan antara jasad hidup dengan lingkungannya.

III.      Azas-Azas Pengetahuan Lingkungan
Asas di dalam suatu ilmu yang sudah berkembang digunakan sebagai landasan yang kokoh dan kuat untuk mendapatkan hasil, teori dan model seperti pada ilmu lingkungan. Untuk menyajikan asas  dasar ini dilakukan dengan mengemukakan kerangka teorinya terlebih dahulu, kemudian setelah dipahami pola dan organisasi pemikirannya baru dikemukakan fakta-fakta yang mendukung dan didukung, sehingga asas-asas disini sebenarnya merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain (sesuai dengan urutan logikanya). Azas-azas ilmu lingkungan itu antara lain :
ASAS 1: (HUKUM THERMODINAMIKA I)
Semua energi yang memasuki sebuah organisme hidup, populasi atau ekosistem dapat dianggap sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak dapat hilang, dihancurkan atau diciptakan. Asas ini adalah sebenarnya serupa dengan hokum Thermodinamika I, yang sangat fundamental  dalam fisika. Asas ini dikenal sebagai hukum konservasi energi dalam persamaan matematika. Contoh: Banyaknya kalori, energi yang  terbuang dalam bentuk makanan diubah oleh jasad hidup menjadi energi untuk tumbuh, berbiak, menjalankan proses metabolisme, dan yang terbuang sebagai panas.
ASAS 2: Tak ada system pengubahan energi yang betul- betul efisien.
Azas ini tak lain adalah hokum Thermodinamika II, Ini berarti energi yang tak pernah hilang dari alam raya, tetapi energi tersebut akan terus diubah dalam bentuk yang kurang bermanfaat. Asas ini  sama dengan hukum termodinamika kedua dalam ilmu fisika. Hal ini berarti meskipun energi itu tidak pernah hilang, namun demikian energi tersebut akan diubah dalam bentuk yang kurang bermanfaat. Secara keseluruhan energi di planet kita ini terdegradasi dalam bentuk panas tanpa balik, yang kemudian beradiasi ke angkasa.
ASAS 3: Materi, energi, ruang, waktu, dan keanekaragaman.
Pengubahan energi oleh system biologi harus Berlangsung pada kecepatan yang sebanding dengan adanya materi dan energi di lingkungannya. Pengaruh ruang secara asas adalah beranalogi dengan materi dan energi sebagai sumber alam.
ASAS 4: Untuk semua kategori sumber daya alam, kalau pengadaannya sudah mencapai optimum, pengaruh unit  kenaikannya sering menurun dengan penambahan sumberalam itu sampai ke suatu tingkat maksimum. Melampaui batas maksimum ini tak akan ada pengaruh yang menguntungkan lagi.
Untuk semua kategori sumberalam (kecuali keanekaragaman dan waktu) kenaikan pengadaannya yang melampui batas maksimum,  bahkan akan berpengaruh merusak karena kesan peracunan. Ini adalah asas penjenuhan. Untuk banyak gejala sering berlaku kemungkinan penghancuran yang  disebabkan oleh pengadaan sumberalam yang  sudah mendekati batas maksimum.
ASAS 5: Pada asas 5 ini ada dua hal  penting, pertama jenis sumber alam yang tidak dapat menimbulkan rangsangan untuk penggunaan lebih lanjut, sedangkan kedua sumber alam yang dapat menimbulkan rangsangan untuk dapat digunakan lebih lanjut.
ASAS 6: Individu dan spesies yang  mempunyai lebih banyak keturunan daripada saingannya, cenderung berhasil mengalahkan saingannya.
Asas ini adalah pernyataan teori Darwin dan Wallace.  Pada jasad hidup terdapat perbedaan sifat keturunan Dalam hal tingkat adaptasi terhadap faktor lingkungan fisik atau biologi. Kemudian timbul kenaikan kepadatan populasinya sehingga timbul persaingan. Jasad hidup yang kurang mampu beradaptasi akan kalah dalam persaingan. Dapat diartikan pula bahwa jasad hidup yang adaptif akan mampu menghasilkan banyak keturunan daripada yang non-adaptif.
ASAS 7 : Kemantapan keanekaragaman suatu komunitas lebih tinggi di alam yang “mudah diramal”.
“Mudah diramal”: adanya keteraturan yang pasti pada pola faktor lingkungan pada suatu periode yang relatif  . lama. Terdapat fluktuasi turun-naiknya kondisi lingkungan di semua habitat, tetapi mudah dan sukarnya  untuk diramal berbeda dari satu habitat ke habitat lain.
Dengan mengetahui keadaan optimum pada faktor  lingkungan bagi kehidupan suatu spesies, maka perlu  diketahui berapa lama keadaan tersebut dapat bertahan.

ASAS 8 : Sebuah habitat dapat jenuh atau tidak oleh keanekaragaman takson, bergantung kepada bagaimana niche dalam lingkungan hidup itu dapat memisahkan takson tersebut.
Kelompok taksonomi tertentu dari suatu jasad hidup ditandai oleh keadaan lingkungannya yang khas (niche), tiap spesies mempunyai niche tertentu. Spesies dapat hidup berdampingan dengan spesies lain tanpa persaiangan, karena masing-masing mempunyai keperluan dan fungsi yang berbeda di alam.
ASAS 9 : Keanekaragaman komunitas sebanding dengan biomassa dibagi produktivitas.
T = K x (B/P) ;  D ≈ T, T = waktu rata-rata penggunaan energi; K = koefisien tetapan ; B = biomassa; P = produktivitas; D = keanekaragaman.
Asas ini mengandung arti, bahwa efisiensi penggunaan aliran energidalam sistem biologi akan meningkat dengan meningkatnya kompleksitas organisasi sistem biologi dalam suatu komunitas. Pada asas ini menurut Morowitz (1968) bahwa adanya hubungan antara biomassa, aliran energi dan keanekaragaman dalam suatu sistem biologi.
ASAS 10 :Pada lingkungan yang stabil perbandingan antara biomasa dengan produktivitas (B/P) dalam perjalanan waktu naik mencapai sebuah asimtot.
Sistem biologi menjalani evolusi yang Mengarah kepada peningkatan efisiensi penggunaan energi dalam lingkungan fisik yang stabil, dan memungkinkan berkembangnya keaneka-ragaman.
ASAS 11 : Sistem yang sudah mantap (dewasa) akan mengekploitasi yang belum mantap (belum dewasa).
Ekosistem, populasi atau tingkat makanan yang sudah dewasa memindahkan energi,  biomasa, dan keanekaragaman dari tingkat organisasi yang belum dewasa. Dengan kata lain, energi, materi, dan keanekaragaman mengalir melalui suatu kisaran yang menuju ke arah organisasi yang lebih kompleks. (Dari subsistem yang rendah keanekara-gamannya subsistem yang tinggi keanekaragamannya).
ASAS 12 : Kesempurnaan adaptasi suatu sifat atau tabiat bergantung pada kepentingan relatifnya dalam keadaan suatu lingkungan.
Populasi dalam ekosistem yang belum mantap, kurang bereaksi terhadap perubahan lingkungan fisikokimia dibandingkan dengan populasi dalam ekosistem yang sudah mantap. Populasi dalam lingkungan dengan kemantapan fisiko kimia yang cukup lama, tak perlu berevolusi untuk meningkatkan kemampuannya beradaptasi dengan keadaan yang tidak stabil.

ASAS 13: Lingkungan yang secara fisik mantap memungkinkan terjadinya penimbunan keanekaragaman biologi dalam ekosistem yang mantap, yang kemudian dapat menggalakkan kemantapan populasi lebih jauh lagi.
Asas ini merupakan penjabaran dari asas 7, 9 dan 12. Pada komunitas yang mantap, jumlah jalur energi yang masuk melalui ekosistem meningkat, sehingga apabila terjadi suatu goncangan pada salah satu jalur, maka jalur yang lain akan mengambil alih, dengan demikian komunitas masih tetap terjaga kemantapannya. Apabila kemantapan lingkungan fisik merupakan suatu syarat bagi keanekaragaman biologi, maka kemantapan faktor fisik itu akan mendukung kemantapan populasi dalam ekosistem yang mantap dan komunitas yang mantap mempunyai umpan-balik yang sangat kompleks. Disini ada hubungan antara kemantapan ekosistem dengan efisiensi penggunaan energi.
ASAS 14 : Derajat pola keteraturan naik-turunnya populasi tergantung pada jumlah keturunan dalam sejarah populasi sebelumnya yang  nanti akan mempengaruhi populasi itu.
Asas ini merupakan kebalikan dari asas ke 13, tidak adanya keanekaragaman yang tinggi pada rantai makanan dalam ekosistem yang belum mantap, menimbulkan derajat ketidakstabilan populasi yang tinggi
 















Bagan 1. Hubungan logis di antara 14 asas ilmu lingkungan (Watt,1973)

1.      Azas mengenai sumber daya alam
Azas-azas yang berkaitan dengan sumber daya alam adalah azas-azas yang berhubungan dengan materi, energi, ruang, waktu dan keanekaragaman. Azas yang berhubungan dengan energi yang dinyatakan sebagai berikut :
“Semua energi yang memasuki sebuah organisme hidup, populasi atau ekosistem dapat dianaggap sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan . Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, tetapi tidak hilang dihancurkan atau diciptakan.” Azas ini telah menjadi hukum dan dikenal dengan hukum termodinamika I, atau dikenal juga hukum konservasi energi.
Azas ini menerangkan bahwa pada populasi atau ekosistem ada aliran energi. Azas ini menerangkan proses pelepasan dan penyimpanan energi. Hanya saja pada aliran energi tadi ada inefisiensi atau ada energi yang terlepas dalam bentuk panas pada setiap rantai siklus energi. Ini sesuai dengan azas ke-2 tentang energi yang menyatakan bahwa “ Tak ada sistem pengubahan energi yang betul-betul efisien.”
2.             Azas mengenai stabilitas sistem ekologi
“Untuk semua kategori sumber alam kalau pengadaannya sudah mencapai titik optimum, pengaruh unit kenaikannya sering menurun dengan pertambahan sumber alam itu sampai ke suatu tingkat maksimum. Jika telah mencapai batas maksimum maka sumber alam itu justru akan rusak.” Azas ini disebut juga azas penjenuhan. Jumlah individu populasi tergantung pada pengadaan sumber alam yang berkaitan.
Azas berikutnya yang berkaitan dengan stabilitas sistem ekologi, menyatakan bahwa sistem yang sudah mantap (dewasa) mengeksploitasi sistem yang belum mantap (belum dewasa). Azas ini menerangkan bahwa ekosistem atau populasi atau tingkat makanan yang mantap mengalirkan energi, biomassa dan keanekaragaman ke ekosistem atau populasi yang belum mantap. Denagn kata lain energi, materi, keanekaragaman bergerak dari yang sederhana ke raah yang lebih kompleks, atau dari subsistem rendah energi dipindahkan ke subsistem yang lebih tinggi. (Dr. Abdul Razak dan dr. H. Armin Arief 2006 : 23)
3.             Azas mengenai fluktuasi populasi
Azas yang berkaitan dengan fluktuasi populasi menyatakan bahwa “derjat keteraturan naik turunnya populasi bergantung kepada jumlah keturunan dalam sejarah populasi sebelumnya yang nantinya akan mempengaruhi populasi. (Dr. Abdul Razak dan dr. H. Armin Arief 2006: 23)
Sebagai ilustrasi, kita berikan contoh atau analogi untuk menerangkan azas diatas. Misalnya burung elang sangat bergantung pada tikus tanah sebagai bahan makanan utamanya. Tikus tanah tergantung pada spesies tumbuhan, tumbuhan hidup juga tergantung pada jenis tanahnya.

4.             Azas Rantai dan jaringan makanan
Suatu organisme hidup akan selalu mrmbutuhkan organisme lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubunagn timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Didalam ekosistem terjadi rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia.
Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan-herbivora-carnivora-omnivora). Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%-90% energi potensial hilang sebagai panas, karena itu langkah-langkah dalam rantai makanan terbatas 4-5 langkah saja. Ada 2 tipe dasar rantai makanan :
a.              Rantai makanan rerumputan (grazing food chain). Misalnya : tumbuhan-herbivora-carnivora-omnivora.
b.             Rantai makanan sisa (detritus food chain). Bahan mati mikroorganisme (detrivora = organisme pemakan sisa) predator dan bangkai.
Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok yaitu:
a. Rantai pemangsa
Rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai produsen.Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora.
b. Rantai parasit
Rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit
c. Rantai saprofit
Rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan bakteri.










Daftar Pustaka
http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/PENDIDIKAN_LINGKUNGAN_UNTUK_SD/BBM_1.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/196202131990012-SRI_HAYATI/MK-EKOLOGI_DAN_LINGKUNGAN/KONSEP_DASAR_EKOLOGI_DAN_LINGKUNGAN.pdf

http://marno.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/EKOLOGI-DAN-ILMU-LINGKUNGAN.doc
Posted on by Samid | No comments

Friday, 27 November 2015

Tugas Ke 4 Review Buku


Tugas ke 4
Buku pertama
Rantau 1 Muara
 rantau1muara
Penulis: Ahmad Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-9473-6
Tebal: 407 hlm
Dimensi: 20 cm
Tahun terbit: 2013
Cetakan: Kedua, Juni 2013
Genre: Fiksi Motivasi, Fiksi Pendidikan
   Apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini? Kebahagiaan? Impian? Kenyamanan? Bahkan, saat kita telah meraih sebagian besar harapan kita, pertanyaan itu kerap membayangi diri kita sampai kita benar-benar tahu dan yakin apa sebenarnya tujuan dan makna hidup kita.
                Pemaknaan terhadap tujuan hidup ini digoreskan lewat sosok Alif dengan sangat indah dalam  Rantau 1 Muara , novel ketiga dari trilogi  Negeri 5 Menara  karya Ahmad Fuadi. Para penikmat  Negeri 5 Menara  tentu cukup familiar dengan sosok Alif. Ia telah melewati banyak pengalaman mengejutkan sebagai representasi dari pepatah arab  man jadda wajada . Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. 
               Alif sudah menjalani hampir separuh dunia. Ia diwisuda dengan nilai terbaik. Soal biaya hidup, Alif masih bisa bernapas lega. Di saat teman-temannya masih menjadi pengangguran, tulisan Alif banyak tersebar di berbagai media. Honornya masih lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya dan Amak beserta adik-adiknya di kampung. Meskipun begitu, ia tetap mencari kerja. Alif ingat pesan Kiai Rais,
               Jangan gampang terbuai dengan keamanan dan kemapanan. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari gesekan dan kesulitanlah, sebuah pribadi akan terbentuk matang. Banyak profesi di luar sana, usahakanlah untuk memilih yang paling mendewasakan dan paling bermanfaat buat sesama. Lalu kalau kalian nanti sudah bekerja, jangan puas jadi pegawai selamanya, tapi punyailah pegawai. (halaman 12).
               Keyakinan dirinya ternyata kurang tepat. Alif lulus di saat Indonesia mengalami krisis moneter. Ada banyak perusahaan yang mengencangkan ikat pinggang agar mampu bertahan di tengah badai ekonomi. Dari sekian banyak surat lamaran yang dikirimkan Alif, tak satu pun balasan bernada gembira. Semua menolak Alif. Kebutuhan hidup yang terus berteriak dan kondisi keuangan yang sudah habis akhirnya membuat Alif terlibat utang. Di saat genting seperti itu, datang berita gembira. Alif diterima di sebuah media bernama Derap, salah satu media paling independen dan idealis di negeri ini.
               Ia begitu menikmati pekerjaan menjadi jurnalis di Derap. Hingga suatu ketika, ia merasa ragu apakah jalan yang ia tempuh ini adalah jalannya. Di sinilah ia bertemu Dinara, seorang gadis yang membuatnya luluh dan jatuh hati dengan segala keunikannya. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka?
 Impiannya untuk melanjutkan S-2 di Amerika belum pupus. Ia mulai berburu beasiswa. Setiap malam, sehabis bekerja, ia belajar lebih giat dari orang-orang umumnya. Ia tidur lebih larut dari orang kebanyakan. Ia yakin, jika ia berusaha lebih keras, Allah akan melihat usahanya.
               Tuhan ini Maha Melihat siapa yang paling bekerja keras. Dan Dia adalah sebaik-baiknya penilai. Tidak akan pernah Dia menyia-nyiakan usaha manusia. Aku percaya setiap usaha akan dibalas-Nya dengan balasan sebaik-baiknya. (halaman 154) 
               Alif berhasil mendapatkan beasiswa Fulbright dan terbang ke Washington DC. Hidup di sana benar-benar sempurna baginya. Sampai terjadilah peristiwa itu. Tragedi 11 September 2001 telah meluluhlantakkan menara kembar WTC dan menyebabkan ia kehilangan orang yang ia sayang, kakak angkatnya. Alif terjebak dalam kesedihan yang panjang. Ia pun memutuskan untuk pulang ke tanah air. Tapi, menjelang waktu kepulangannya, lamarannya ke EBC di London yang sudah sangat lama ia ajukan ternyata diterima. Alif bimbang. Apakah ia harus pulang sekarang dan menolak semua tawaran pendapatan dan kenyamanan yang menggiurkan dari EBC? Impiannya yang berikutnya sudah di depan mata. Apa yang harus ia pilih? 
               Kisah perjalanan Alif dalam mengejar impian dan menemukan makna hidupnya ini cukup pantas untuk dinikmati. Novel ini adalah sebuah karya yang penuh energi positif bagi siapa pun yang sedang bimbang dalam mencari tempat berkarya, pendamping hidup, bahkan mencari tujuan hidup. Ada begitu banyak penuntut ilmu yang merantau jauh ke negeri orang, tapi tidak tahu untuk apa mereka melakukannya. Seperti halnya impian, yang semakin bertambah saat impian yang satu telah terwujud, apa esensi dari impian itu? Untuk siapa? Untuk apa? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang pantas kita ajukan pada diri kita sendiri.
               Lewat Rantau 1 Muara, kita yang muslim juga diingatkan tentang euforia masa lalu. Betul memang, bahwa muslimlah yang mengawali peradaban ilmu pengetahuan. Betul juga bahwa muslim yang mengembangkan peradaban Yunani menjadi lebih membumi. Tapi pertanyaan yang lebih pentingnya adalah, Apa yang diberikan muslim kepada peradaban dunia saat ini? Ini tentu bisa menjadi bahan perenungan bagi kita semua agar lebih produktif lagi. Jangan terjebak dengan kejayaan masa lampau hingga kita terlena dan lupa untuk membangun peradaban yang lebih baik di masa kini.
               Novel ini berisi banyak sekali informasi, mulai dari tempat-tempat istimewa, cara bekerja media dan jurnalis, prinsip hidup, hingga beasiswa bergengsi, yang disuguhkan Ahmad Fuadi dengan cara apik, natural dan sangat detil. Gaya berceritanya juga mengalir dan enak dinikmati. Sayang rasanya bila dilewatkan tanpa mencatatnya. Selain itu, kita juga bisa mengikuti perjalanan Alif di New York dan Washington DC lewat peta yang disediakan di sampul depan dan belakang buku. Bagi saya, buku ini lumayan berbobot. Selain menambah wawasan umum, Rantau 1 Muara juga membuka kembali cara kita memandang hidup ini; tentang makna keberadaan diri kita di muka bumi dan tentang kemanfaatan.
               Man saara ala darbi washala. Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan.
Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian. Dan kebermanfaatan. (halaman 395) 
               Saat selesai membacanya, saya lalu membaca informasi singkat tentang penulis. Ternyata, kisah perjalanan Alif ini sangat mirip dengan perjalanan hidup penulis. Intinya, bukan biografi, tapi terinspirasi dari kehidupan nyata, termasuk soal profesinya yang sama dengan sang istri. Pantas saja informasi yang disuguhkan sangat detil dan memiliki kesamaan latar. Satu hal lagi, saking banyaknya tempat-tempat menarik yang saya temukan dan catat, saya memutuskan membuat halaman terpisah khusus untuk wisata buku Rantau 1 Muara.
 Beberapa catatan penting atau kalimat positif yang saya dapat:
Polymath adalah orang cerdas yang mampu menguasai beragam ilmu sekaligus. Contohnya Ibnu Rusyd dan Leonardo da Vinci. (halaman 40)
 Betapa hebatnya sebuah tulisan. Kekal, melewati batas umur, zaman, bahkan geografis. Melalui tulisan dan huruflah manusia belajar dan menitipkan ilmu kepada manusia lain. (halaman 41)
 Carilah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah lagi bekerja satu hari pun sepanjang hayat Konfusius. (halaman 111)
 Man thalabal ula sahirul layali. Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, bekerjalah sampai jauh malam pepatah Arab. (halaman 155)
 An nasu adau ma jahilu. Manusia itu musuh terhadap apa yang dia tidak tahu. (halaman 163)
Menurut US Freedom of Information Act, semua confidential documents dan surat-menyurat agen CIA, termasuk radiograms, ketika sudah berumur 30 tahun bisa dibuka kepada publik. (halaman 287)

Buku kedua
Filosofi Kopi
filosofi kopi
Judul: Filosofi Kopi, Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Penulis: Dee
Penerbit: Truedee Books, GagasMedia
ISBN : 979-96257-3-4
Tebal: 134 hlm
Dimensi: 20,5 cm
Tahun terbit: 2006
Cetakan: Keempat, April 2006
Genre: Fiksi Cerpen
Rating: 3/5
  Filosofi Kopi  adalah buku kedua Dee yang saya baca setelah  Perahu Kertas . Dan seperti yang sudah saya duga sebelumnya, gaya Dee bertutur masih tetap indah dan mengalir. Sederhana. Ketika seorang Goenawan Mohamad berkata, Jika ada yang memikat pada Dee adalah cara dia bertutur: ia peka pada ritme kalimat. Kalimatnya berhenti atau terus bukan hanya karena isinya selesai atau belum, tapi karena pada momen yang tepat ia menyentuh, mengejutkan, membuat kita senyum, atau memesona, maka saya sangat setuju dengannya. Meskipun tak semua ide cerita di buku ini bisa saya sukai, tapi gaya Dee tetap saja nikmat, senikmat menyesap susu coklat di senja hari.
 Buku yang saya miliki ini adalah versi sampul lama yang masih berwarna hitam. Buku ini berisi 18 kumpulan cerita dan prosa Dee selama satu dekade tahun 1995 sampai 2005. Cerita yang paling saya suka sudah pasti adalah Filosofi Kopi yang berkisah tentang dua sahabat karib, Ben dan Jody, bersama suka dukanya mengelola kedai kopi yang unik. Tentu saja unik, sebab setiap pelanggan bisa menemukan dirinya sendiri di sana berdasarkan filosofi kopi yang mereka pesan. Itulah mengapa kedai mereka diberi nama Filosofi Kopi.  
 Ben adalah seorang barista andal yang sangat mencintai kopi. Ia bahkan berkeliling dunia untuk menyicipi kopi-kopi terenak yang pernah ada. Ia selalu senang mengajak pengunjung kedainya  ngobrol  seputar kopi, menunjukkan cara minum kopi yang nikmat, lalu dengan keajaiban kopinya, setiap pengunjung akan dibuat takjub setelah menyesap kopi-kopi mereka. Sedangkan Jody adalah pria dengan kemampuan manajerial dan akuntansi yang andal. Jadilah mereka dua sejoli yang saling melengkapi.
 Suatu hari, Ben merasa tertantang oleh tawaran seorang pengunjung kedainya untuk membuat kopi yang sempurna. Berhari-hari ia tak peduli akan banyak hal kecuali percobaan demi percobaan racikan kopinya. Dan suatu hari, perjuangannya itu terbayar. Ben Perfecto akhirnya lahir dan menjadi kopi paling enak di kedainya, bahkan di dunia seperti pengakuan Ben. Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup, begitulah arti kopinya.
 Tapi tampaknya peribahasa, Di atas langit masih ada langit, itu berlaku pula pada kopi Ben. Ada kopi lain yang lebih enak dari Bens Perfecto. Namanya kopi Tiwus, yang diracik oleh seorang bapak di sebuah desa nun jauh dari Jakarta. Ben merasa kalah dan nyaris saja menutup kedai kopinya. Lalu apa yang terjadi kemudian? Tak ada yang sempurna di dunia ini.
kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisa pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan. Dan di sanalah kehebatan kopi tiwus memberikan sisi pahit yang membuatmu melangkah mundur, dan berpikir. (halaman 28) 
 Cerpen Rico de Coro juga unik dan asyik, sebab mengangkat tema ringan yang tak biasa tentang kehidupan kecoa dapur, yang kalau kita tilik lebih dalam akan memberikan multi makna bagi setiap pembacanya.  
 Selain cerita pendek, prosa Dee di buku ini hampir semuanya saya suka, tapi yang paling memberikan makna mendalam adalah prosa Salju Gurun dan Spasi. Pemaknaan Dee dalam setiap prakatanya selalu saja berhasil menyatu dengan indah, menyisakan pesona yang berbeda. Selalu.
  Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? (halaman 97) 
 Selain dua cerita pendek tadi, cerita lainnya berkisar tentang cinta dua manusia. Meskipun masih dengan penuturan yang indah dan pemaknaan yang mendalam, namun tetap saja temanya kurang saya minati. Lain orang, lain pula minatnya. Tapi, cukup dengan satu cerpen Filosofi Kopi saja, maka buku ini benar-benar nikmat, hingga jika cerita-cerita lainnya tak diacuhkan pun, buku ini tetap nikmat. Membacanya membuat saya tergelitik penasaran, Adakah kedai kopi seperti itu di dunia nyata Indonesia? Jika ada, saya ingin sekali mengunjunginya.
  Filosofi Kopi  terbit pertama kali pada Februari 2006. Hingga tulisan ini dibuat, buku ini telah puluhan kali mengalami cetak ulang dengan sampul yang berbeda-beda. Dari penelusuran yang saya lakukan, setidaknya ada tiga versi sampul yang telah diterbitkan selain sampul hitam seperti yang saya miliki, dan ketiganya sama indahnya.
Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula.(Jembatan Zaman halaman 68).
 Daftar Pustaka
Fuadi, Ahmad. 2013. Rantau 1 Muara. Gramedia Pustaka Utama
Dee. 2006. Filosofi Kopi. Gagas Media

Posted on by Samid | No comments